"Assalamualaikum, Welcome, Jelajahi Imajinasimu! "

Temukan untaian kata, cerita, dan pengalaman menarik dari situs kami...

Ungkapkan Mimpimu Kawan

"Layaknya sang anak dalam pangkuan ayahnya, menatap senja dengan sejuta mimpi besar, pantaskan diri, dan buat mimpi itu datang padamu!"

Tersenyumlah...

"Seperti halnya kebaikanmu pada orang lain, ia juga akan datang padamu"

Komitmen...

"Bentuk kesetiaan kami memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi semua"

Tegurlah...

"Bukanlah kesempurnaan tanpa kritik dan masukan, sungguh itulah suplemen kami agar tumbuh besar"

Selasa, 07 Juni 2016

Apa Tema Ramadan Kita?


Bulan mulia harus dipersiapkan dengan baik kedatangannya. Layaknya tamu agung yang datang setelah pergi sebelas bulan lamanya. Mari persiapkan dan sambut meriah kedatangannya. Marhaban ya Ramadan.

Menarik ingin saya sampaikan salah satu persiapan menyambut tamu agung ini. Tema. Apa tema ramadan kita kali ini? Boleh jadi sama atau boleh jadi berbeda dengan Ramadan tahun lalu, yang jelas kita harus pasang target Ramadan kali ini lebih baik dari sebelumnya. Namun jangan puas dulu, tidakkah kita sedih dengan mereka yang tak merasakan kehadiran Ramadan kecuali secara tiba-tiba? Lantas tema apa yang dia persiapkan? Bisa jadi Ramadan baginya hanya bertema puasa, tidak makan dan tidak minum di siang hari.

Sungguh malang bukan? Padahal Ramadan selalu datang dengan janji ketakwaan bagi siapa saja yang lulus darinya. Berlimpah-ruah keutamaan dan segala rahmat ampunan Allah di bulan ini. Lalu tidakkah kita haus untuk meneguk segala luapan nikmat itu? Atau boleh kita berkata, minimal satu dua teguk dari telaga keutamaan Ramadan kita ambil. Jangan sampai sia-sia, tertinggal, dan tak dapat apa-apa kecuali seperti yang disabdakan Baginda Nabi saw: Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan sedikitpun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.

Olehnya, mari kita susun tema Ramadan kita. Ukir dan pajang besar-besar di hadapan ruh dan pikiran kita setidaknya selama satu bulan Ramadan. Moga-moga ia jadi motivasi dan pengingat kita agar tak tertinggal jatah keutamaan Ramadan.
Seperti apa tema Ramadan itu? Tak asing pastinya, kita sering mendengar Ramadan tak disebut Ramadan. Di antaranya Syahrus Shiyam (bulan puasa), Syahrul Quran (bulan Al-Quran), Syahrus Shobr (bulan kesabaran), Syahrul Maghfirah (bulan ampunan), Syahrul Qiyam (bulan qiyamullail/tahajjud), Syahrut Taubah (bulan taubat), Syahrus Shodaqah (bulan bersedekah), dan masih banyak lagi.

Ternyata Ramadan sejatinya begitu penuh dengan ketaatan, begitu padat dengan ibadah. Maka cobalah untuk menjadikan salah satu di antaranya unggulan selama bulan Ramadan. Contoh kita bisa jadikan taubat sebagai ibadah unggulan kita selama Ramadan. Tiada hari tanpa istighfar, dalam sehari kita targetkan minimal seribu kali istighfar. Taubat kita lebih dahsyat dari hari-hari di luar Ramadan, semakin hari semakin sering kita mengadu memelas ampunan kepada Allah. Hingga hari-hari Ramadan kita penuh dengan kalimat istighfar dan taubat. Subhanallah, indah betul. Maka Bulan Taubat dan Istighfar adalah tema Ramadan kita.

Atau Allah beri kita kelebihan harta. Targetkan tiada hari tanpa sedekah, nominalnya melebihi sedekah kita di hari-hari biasa. Semakin kita lalui hari di bulan Ramadan, semakin asyik kita bersedekah. Maka Bulan Bersedekah adalah tema Ramadan kita.

Tak boleh semalampun lewat tanpa shalat tahajjud minimal empat rakaat. Di sepuluh malam terakhir tak ada lagi waktu malam untuk tidur kecuali sedikit. Maka Bulan Tahajjud adalah tema Ramadan kita.
Sungguh indah kita lalui hari-hari Ramadan dengan tema Ramadan. Jadikan ia amal unggulan kita di Ramadan tahun ini, sesuai kapasitas dan kemampuan kita, "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.." (At-Taghabun: 16)

Tapi ingat, ada orang yang selepas Ramadan, ia menjadi betul-betul kaya bergelimang pahala dan fadhilah. Siapa mereka? Orang-orang yang menjadikan segala jenis ibadah menjadi unggulannya di bulan Ramadan. Allah swt ridha terhadap mereka dan tanpa ragu memberian gelar takwa sesuai janjiNya. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Mari tentukan tema Ramadan kita dan raih gelar takwa insya Allah.

Selasa, 08 Maret 2016

Shalat Gerhana dan Hikmah

shalat gerhana

Saat gerhana, gaya gravitasi bumi sedikit terpengaruh oleh gravitasi bulan dan matahari yg sejajar.

Dri situs www.infoastronomy.org dikatakan:
"Nilai gravitasi di permukaan Bumi adalah 9,8 meter per detik kuadrat, atau 980 gal. Sementara penelitian oleh dua astronom Tiongkok, Xin-She Yang dan Qian-Shen Wang menunjukkan adanya penurunan gravitasi Bumi 6 hingga 7 mikrogal atau 0,000006 hingga 0,0000007 gal saat kontak pertama dan kontak terakhir gerhana Matahari. Namun, selama fase total, gravitasi Bumi kembali normal."

Lalu, dalam ajaran Islam, kita disunnahkan utk shalat gerhana saat terjadi gerhana, dan salah satu yg membedakannya dgn shalat yg lain adalah lamanya waktu pelaksanaan shalat tersebut, ruku' dan sujudnya pun lama.

Dari sini saya meyakini, walaupun tidak ada pembuktian ilmiahnya (atau lebih tepatnya saya yg blm menemukan), ada hikmah dan pengaruh terhadap kesehatan/medis dari shalat gerhana yg lama dengan kondisi tubuh yg dipengaruhi fenomena gerhana. 
-Seperti halnya rahasia dibalik pelarangan laki2 memakai perhiasan emas dan larangan perempuan shalat saat haid dari sudut pandang medis-
Wallahu 'alam.

Jadi, sunnah muakkadah shalat gerhana jangan sampai terlewatkan. Semoga Allah memeberi kita semua taufiq agar mampu mengikuti sunnah baginda Nabi saw, karena seperti itulah seyogyanya kita dalam beribadah, tak perlu menunggu apa rahasia dan hikmah di balik perintah ibadah. Adapun saat kita mengetahui hikmah dan rahasia di balik ibadah tersebut, tentu akan menambah semangat dan keyakinan kita dalam beibadah.

-Raji Luqya Maulah-
sumber foto: www.dakwatuna.com

Senin, 07 Maret 2016

Fiqih Shalat Gerhana

fiqih shalat gerhana

Shalat Kusuf (Gerhana Matahari) dan Khusuf (Gerhana Bulan)*
(Berdasarkan Madzhab As-Syafi’iy)

Definisi dan waktu disyariatkan:

Kata Kusuf dari segi bahasa diartikan sebagai tertutupnya sinar matahari sebagiannya atau seluruhnya, adapun kata Khusuf diartikan sebagai tertutupnya cahaya bulan sebagiannya atau seluruhnya. Namun kedua kata tersebut boleh diartikan sama.

Shalat Kusuf (gerhana matahari) dan Khusuf (gerhana bulan) termasuk shalat yang disyariatkan karena adanya sebab, dalam shalat tersebut seorang muslim berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar diangkat bencana dan dikembalikannya cahaya matahari. 

Shalat Kusuf (gerhana matahari) disyariatkan pada tahun ke dua Hijriyah, adapun shalat Khusuf (gerhana Bulan) disyariatkan pada tahun ke lima Hijriyah.

Hukum Shalat Gerhana:

Shalat gerhana hukumnya Sunnah Muakkadah, sebagaimana sabda Nabi saw, yang diriwayatkan Muslim (904): «Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah, gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang, maka apabila kalian melihat gerhana, shalatlah dan berdoalah sampai terbuka (gerhana)». Juga sebagaimana perbuatan Nabi saw yang akan dijelaskan kemudian. Adapun hadits ini tidak diartikan sebagai perintah wajibnya shalat gerhana, berdasarkan riwayat: bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Nabi saw tentang shalat lima waktu dan berkata: apakah ada (kewajiban) untukku selainnya (shalat lima waktu)? Kemjudian Nabi saw bersabda: «Tidak, kecuali yang sunnah». (Bukhari: 46; Muslim: 11)

Dan disunnahkan dilakukan secara berjama’ah, dengan seruan: (الصلاة جامعة) Ashshalaatu Jaami’ah

Tata Caranya:

Shalat Kusuf dan Khusuf terdiri dari dua rakaat, dengan niat shalat Kusuf atau Khusuf, dan terdapat dua tata cara pelaksanaannya: batas cara minimal sahnya shalat, dan cara terbaik menunaikannya.

Adapun tata cara minimal sahnya shalat gerhana adalah dalam setiap rakaat terdapat dua kali berdiri, dua kali bacaan (Alfatihah), dua kali ruku’, dan dilakukan seperti shalat biasa tanpa diperpanjang (diperlama).  Dan sah apaliba dilaksanakan dua rakaat dengan dua kali berdiri dan dua kali ruku’, seperti shalat jumat, akan tetapi hal itu termasuk meninggalkan keutamaan, karena berbeda dengan perbuatan Nabi saw.

Adapun tata cara yang terbaik adalah: dalam setiap rakaat, dua kali berdiri dengan memperlama bacaan di setiap berdiri, yaitu membaca surat Albaqarah saat berdiri yang pertama dari rakaat pertama setelah surat Alfatihah atau surat lain yang setara. Dan saat berdiri yang kedua (dari rakaat pertama) dengan kadar 200 ayat. 
Saat berdiri yang pertama dari rakaat kedua  dengan kadar 150 ayat, dan saat berdiri yang kedua (dari rakaat kedua) yang setara dengan 100 ayat surat Albaqarah. 
Kemudian pada saat ruku’, hendaknya memperpanjang ruku’ setara membaca kurang lebih 100 ayat, dan pada ruku’ yang kedua, memperpanjang ruku’ setara membaca 80 ayat. Dan ruku’ yang ketiga setara 70 ayat, dan ruku’ yang keempat setara 50 ayat.

Apabila telah selesai shalat, imam menyampaikan khutbah dengan dua khutbah –seperti khutbah shalat jumat baik dalam rukunnya dan syaratnya-, di khutbah tersebut Khatib menghimbau manusia untuk bertaubat dan berbuat baik, dan memperingatkan mereka dari kelalaian dan tipu daya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan (562), dan berkata hasan shohih, dari Samurah bin Jundub ra berkata: Nabi saw shalat bersama kami saat gerhana bulan dan kami tidak mendengar suara dari beliau.

Dan Imam Bukhori meriwayatkan (1016); dan Muslim (901), dari Aisyah ra berkata: Terjadi gerhana matahari saat Nabi saw masih hidup, lalu Rasulullah saw keluar menuju masjid, lalu berdiri dan bertakbir dan meluruskan shaf di belakangnya, kemudian membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata: «Sami’allaahu liman hamidah Rabbanaa lakal hamdu» kemudian berdiri dan membaca bacaan yang panjang namun lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lebih pendek dari ruku’yang pertama, kemudian bekata: «Sami’allaahu liman hamidah Rabbanaa lakal hamdu», lalu sujud – dalam riwayat yang lain: kemudian memperlama sujud – lalu beliau melakukan hal yang sama di rakaat kedua sampai selesai empat rakaat . . . yaitu empat rakaat^ dan empat sujud, dan matahari kemudian nampak kembali sebelum beliau beranjak (dari shalat). Kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah, lalu memuji Allah swt, dan bersabda: «Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang, apabila kalian melihatnya maka bersegeralah menuju shalat». Dalam sebuah riwayat: «Apabila kalian melihatnya maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah».

[pada kenyataan. . . : Gerhana bertepatan dengan kematian putra Rasulullah saw; Ibrahim as. Dan pada masa Jahiliyah apabila terjadi gerhana bulan atau matahari, mereka beranggapan bahwa seseorang yang hebat/mulia telah wafat, mereka semakin meyakini  hal itu karena bertepatan pula dengan kematian Ibrahim as. Akan tetapi Rasulullah saw membantah keyakinan tersebut dengan berkata: «Gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian atau kehidupan seseorang».
. . .  ^Empat rakaat: maksudnya empat kali ruku’].

Apabila shalat gerhana matahari, maka bacaan dipelankan, dan memperingatkan manusia dari kelalaian dan tipu daya.

Shalat Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan Tidak Diqadha:

Apabila waktu shalat gerhana matahari atau bulan terlewatkan, seperti telah nampak kembali matahari atau bulan sebelum menunaikan shalat gerhana, maka tidak disyariatkan untuk menggantinya (qadha), karena shalat gerhana merupakan shalat yang berkaitan dengan sebab, apabia sebabnya hilang maka hilang pula kewajibannya. 

Mandi Untuk Shalat Gerhana:

Disunnahkan mandi sebelum shalat gerhana matahari atau bulan. Mandi sebelum shalat gerhana seperti halnya mandi sebelum shalat jumat, karena shalat gerhana berkumpul dan disunnahkan secara berjama’ah.

*Diterjemahkan dari kitab Al-fiqhu Al-Manhajiy ‘Ala Madzhab Al-imam As-syafi’iy –Rahimahullaahu Ta’aalaa- Juz pertama karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthofa Al-Bugha, dan Syaikh ‘Ali As-Syarbaji cetakan ke empat DarulQalam halaman 239-242.

-Raji Luqya Maulah-

Senin, 17 Agustus 2015

Memaknai Kemerdekaan

Bendera Indonesia

Merdeka Indonesia!
Mari maknai kemerdekaan itu..

Merdeka berarti bersegera sambut seruan-Nya
Merdeka berarti perangi kebatilan
Merdeka berarti tegakkan kebenaran
Merdeka berarti taat yang bertambah
Merdeka berarti lepas dari maksiat
Merdeka berarti cerdas dari kejahiliaan
Merdeka berarti membuang jauh kebodohan dan kebutaan
Merdeka berarti segan dengan kearifan
Merdeka berarti hina dengan kesombongan
Merdeka berarti peduli dengan sesama
Merdeka berarti perangi egoisme
Merdeka berarti perangi korupsi
Merdeka berarti perangi kezholiman
Merdeka berarti mendukung yang tulus
Merdeka berarti lawan yang kufur
Merdeka berarti syukur pada nikmat-Nya
Merdeka berarti sadar akan bergantung pada-Nya
Merdeka berarti hidup mulia atau mati di jalan-Nya
Merdeka berarti terbebas dari siksa api neraka

Sayangnya, tak banyak lagi yang mampu memaknai kemerdekaan.
Maaf bangsaku..

Raji L Maulah
di hari ke-70 tahun bangsaku

Sabtu, 18 April 2015

Premium Ingin Dihapuskan? hmm..


Menurut hemat saya ini cuma akal-akalan pemerintah dalam memuluskan rencana perusahaan bahan bakar asing untuk semakin menguasai pasar di Indonesia, apa ini semakin memperjelas bahwa ada deal-deal sebelumnya untuk itu..?
pemerintah as yg dapat kursi, perusahaan asing as cukong (pemberi modal dapat kursi (baca: kekuasaan)).
Dampaknya selisih harga pertamax dan pertalite (jenis baru pengganti premium nanti) akan semakin kecil. Lihat saja sekarang, selisih premium dengan pertamax yang segitu saja orang-orang sudah beralih ke pertamax, melirik ke pom bensin asing bahkan lebih mentereng & diminati, wong harga juga sama dengan yang di pertamina (pertamax), bisa dibayangin klo selisihnya nanti lebih kecil lagi!
Otomatis antrian di SPBU kepunyaan asing semakin panjang, untung mereka meningkat, mission complete~

Dan lagi..
ini sama aja secara tidak langsung pemerintah menaikkan (lagi) harga BBM tapi dengan bungkus baru; embel-embel jenis bahan bakar yang lebih bagus, tarikan mesin lebih kuat, lebih bersih, ramah lingkungan (kata salah seorang pengamat, "Emang ada BBM yang ramah lingkungan?" Hehe), dan lebih murah dari pertamax~ (lalu kita lupa kalau itu lebih mahal dari premium)

So, seperti halnya setiap kali kenaikan harga BBM, harga pokok di pasaran ikut meroket, dan gamau turun meski BBM udah turun.

Boleh-boleh saja sih ganti jenis BBM dengan yang lebih bagus (dgn resiko harga lebih mahal) macam di Malaysia, tapi seharusnya Pemerintah juga sadar bahwa yang lebih penting sebelum itu adalah menaikkan pendapatan per-kapita penduduk Indonesia, supaya masyarakat bisa mengimbangi. Tapi nyatanya tidak begitu. Alhasil kita mau ngikut jejak malaysia, tapi malah blunder.

Lagi-lagi yang dikorbankan Rakyat.

Mungkin tulisan ini cuma opini belaka, bisa jadi akan muncul fakta-faktanya kemudian hari, namanya juga opini, toh dipayungi oleh kebebasan berpendapat, kan?

So, ayolah, masayarakat MerahPutih, kita harus sadar dengan kondisi Negara kita, karena kita sama-sama manggut dengan asas CINTA TANAH AIR.

Jumat, 13 Februari 2015

Masih Diberi Waktu

masih diberi waktu
Sumber: britishcourse.com
Kalau kulit tak lagi merasa, mata ingin terpejam terus, lidah tak lagi ada daya mengucap, jantung-pun entah kapan terakhir berdetak, saat itu tinggal ruh yang masih sadar, tepatnya baru sadar. Kelakuan kita di bawah pohon persinggahan ternyata salah. Kita pikir kita selamanya di sana, alpa juga dari kuasa kita. Memang siapa bilang kita punya kuasa? Mereka yang kita nikmati pun akhirnya tak berdaya, menolak congkak kuasa kita yang selama ini sombong menzholiminya.

Perlahan tetes air mata kering disapa mentari, tinggal kain putih murahan yang bersandang di badan, entah badan siapa, toh yang mengaku punya-pun tak sanggup berbuat dengannya. Yang lain juga jijik, sedih mendekat sambil menutup hidung.

Belum cukup rasanya waktu istirahat di bawah pohon ini. Memang siapa yang menduga ini tempat  bersantai? Kita baru sadar saat sudah dipaksa pergi. Kalaulah boleh kembali, nanti juga akan berbuat sama, Dia lebih tahu kemunafikan kita. Padahal bukankah kita diberi waktu panjang sebelumnya, sampai-sampai bisa nyaman berpangku tangan bahkan tertidur pulas?


Waktu, beruntung sang Pengasih menciptakannya untuk kita. Sampai kita lalai atau bergegas. Manusia masih diberi waktu, sampai ia lalai merasa waktu tak berbatas, tak mau ingat dirinya hanya masih diberi waktu. Diingatkan juga congkak. Maka selamat ia yang bergegas pada ampunan, karena terus menyadarkan diri ia hanya masih diberi waktu. Bukankah tak ada yang tahu sampai kapan?

Rabu, 11 Februari 2015

Seni dan Seniman

seni dan seniman memahat
image: athohirluth.lecture.ub.ac.id
Seolah tak ada ujung, seni terus tumbuh..

***

Baru saja mentari melirik malu-malu ke padang hijau. Membuat tarian air di dedaunan semakin berkilau. Bau hangat agak membakar sisa udara lembab disini. Oom tak sabar berlari ke pohon tumbang ulah hujan semalam. Kakinya kecil membajak lumpur, sementara pisau pahat dan kapak menenteng di tangannya. Entah siapa yang menyihirnya semangat seperti itu.

Terburu-buru ia korek bagian tengah batang yang masih basah. Mengambil kayu yang sudah terlihat matang tapi agak lunak. Ah, sepertinya ia tak butuh kapak, angin dan hujan sudah lebih tajam mematahkannya, percuma berat-berat ia bawa, tapi biar saja, semangat Oom sudah seperti sihir dan obat kuat.

Lihai betul ia memainkan pisaunya. Segera saja potongan kayu tadi dia ukir. Tangannya mesin serutan kayu. Sementara matanya terus memindai jeli membuat pola dalam khayalannya. Satu dua lembar bekas serutan memenuhi kakinya yang berlumpur, kotor seperti tanah yang diguguri daun. Apa pedulinya kalau sudah begini. Jemarinya seperti lantunan irama yang membuatnya tambah senang, semakin diayun semakin gembira.

Selesai pahatannya menjadi bentuk dasar, ini belum saatnya jarum panjang jam dinding berputar lima kali! Ia sudah tak sabar membuat pola berikutnya. Kepiawaiannya tak sedikitpun membiarkan idenya melarikan diri. Dengan kasar dan tegas ia tarik paksa kembali ide yang berusaha kabur. Menjerumuskannya dalam pahatan-pahatan yang semakin membuat kakinya penuh bekas serutan kayu. Percuma idenya lari, ia akan kejar lagi dan menariknya pulang.

Semakin jadi, bentuknya bertambah jelas. Potongan kayu itu tak lagi sebuah batang pohon patah semalam. Oom menjadi penyihirnya. Entah berapa tipis lengkungan dan sudut pahatan yang ia buat. Mungkin sudah sama dengan tajamnya pisau yang ia pakai. Ia kini butuh pisau yang lebih tipis lagi. “Sudah! Kau akan mematahkannya Oom!”, teriak idenya dalam kepala. Ya, benar juga, nyaris pisau yang tak lebih tipis dari pahatan itu merusak ukiran tadi. Ini pasti ulah semangat Oom, apa perlu ia buang separuh?

Oom ini memang keras kepala. Tak sudi ia buang semangatnya walau sebutir. Dasar tamak. Tapi itu juga yang membuat ia berlari tergesa-gesa menyelamatkan pohon tumbang lalu menyulapnya jadi ukiran. Kalau begitu biarlah dia melanjutkan ukirannya.
Alatnya tak lengkap. Tapi ukirannya kenapa begitu lengkap dengan nilai seni? Aku sendiri tak yakin, mungkin ini hanya cerita dongeng pengantar tidur. Atau mitos yang datang dari tengah hutan. Tapi aku menyaksikannya sendiri sekarang, mau apa lagi? Memang tak boleh aku menyangkal.

Bertambah keunikan kayu yang ia pegang layaknya batu permata. Terlalu hati-hati ia pahat dan ukir. Kini melingkar, membuat lekukan, dan menghaluskan beberapa sudut. Ini pasti sudah setengah jadi. Tapi jemarinya tak berhenti meliuk-liuk. Apa dia ingin merusak ukiran setengah jadi yang begitu indah ini? Mustahil! Ia tak pernah belajar skala, tapi ukirannya sangat detail. Ini bukan lagi potongan kayu, apalagi batang pohon basah di halaman rumah yang patah oleh hujan dan angin semalam.

Aku tak mengerti lagi gerakan apa yang ia buat. Pisaunya pun sesekali ia ganti dengan sesuatu yang lebih mirip obeng tapi pipih dan tajam diujungnya. Aku tak tahu jadi apa kayu ini nantinya, tapi di khayalnya tergambar jelas sebuah mahakarya. Aku mengangguk sabar menanti kayu itu benar-benar jadi, berubah menjadi bentuk khayalannya. Sebagaimana aku yang hampir tak sabar, Oom juga tak sabar membuat khayalnya jadi nyata.

Ini sudah hampir larut. Sinar mentari tadi yang malu-malu datang pun pergi karena tak juga diperhatikan. Mungkin besok ia akan datang lagi dan merayu Oom agar memperhatikannya, bukan cuma kayu saja yang ditemani terus. Entahlah, aku yakin mentari akan bosan juga berharap seperti itu.

“Sudah?”, aku coba berbisik dalam hati. Seolah benar mendengarku, Oom menoleh. Girang sekali mukanya, matanya melebar, alisnya yang sejak tadi mengernyit terangkat. MAHAKARYA! Pasti sudah jadi! Aku kagum luar biasa. Kerja keras, ketelitian, dan seni, maha karya Oom pasti mahal! Tak sabar menantinya di pelelangan. Entahlah, alisnya turun kembali, mukanya masam. Seperti anak kecil yang ingin diambil mainannya, ia berlari ke sebuah ruangan. Berdiri di depan lemari agak besar warna coklat, membukanya dengan perlahan..

Satu, dua, empat, sembilan, dua puluh, aah... ini mahakarya semua! Dengan senyum ia letakkan mahakarya barunya di samping yang lain, memperhatikan lemari itu sejenak dengan puas, lalu menutupnya kembali dengan pelan.

Aku menggangguk paham. Hasrat jiwanya terpuaskan oleh seni. Aku mengerti, beginilah rupa SENIMAN.

Rabu, 10 Desember 2014

Cucuku, Sang Penerus

karya cerpen terbaik cucuku, sang penerus
foto oleh: flickr.com - karyaadhi

Oleh: Raji Luqya Maulah

25 derajat celcius, hujan telah berhenti. Keheningan menghampiri malam kota Bogor. Tetesan air hujan masih tersisa menari di dedaunan, sesekali jatuh mengenaiku. Kutarik resleting jaket hitamku, kurapatkan. Anak itu masih saja ceria, girang meloncat-loncat di antara genangan air. Kuraih tangannya, bergegas sebelum iqamat berkumandang. Sudah sebulan, semenjak kepergian kedua orangtuanya.

***

Sepuluh tahun kemudian

Pukul 13.00. Jam kepulangan anak sekolah, tetapi cucuku tak kunjung tiba di rumah. Mungkin ia sedang ada tugas tambahan di sekolahnya, pikirku. Maklum, akhir-akhir ini anak SMA sering disibukkan dengan kegiatan tambahan di sekolahnya, sehingga jarang pulang tepat waktu. Kumasukkan makan siang yang sejak tadi sudah siap ke lemari, sambil menunggu cucuku datang.

Tiba-tiba telpon rumah berdering. “kek, maaf Faris hari ini pulang terlambat, ada pembinaan untuk adik kelas”, ucapnya lewat telpon. Akhirnya kupersilahkan cucuku dan sedikit memberi pesan agar tidak terlalu larut pulang.

Sebulan kemudian barulah aku tahu bahwa ia kini rutin membina adik-adik kelas di sekolahnya. Sedikit heran karena sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Kesehariannya dulu tak beda dengan pemuda pada umumnya. Bahkan tak jarang ia pulang terlambat bukan karena membina seperti sekarang, tetapi karena mampir bermain dengan temannya. Entah apa yang merubahnya. Tapi yang terpenting hatiku menjadi sedikit lebih tenang. Ia sudah menjadi lebih baik, pikirku.

Diumur yang tak muda lagi, sudah tak banyak yang bisa kuperbuat agar ia lebih baik. Paling tidak seperti yang seluruh orangtua inginkan kepada anaknya. Mungkin hanya sebatas nasihat dan kasih sayang yang saat ini kuberikan. Aku sering menasihatinya tentang tanggungjawab, kepemimpinan, karena ia laki-laki, dan perjuangan, seperti perjuangan ayah ibunya dulu. Aku ingin ia tumbuh menjadi dewasa dan menjadi harapan orang banyak.

Hari-hari mudanya berlalu. Tak seharipun kulewati tanpa terus memperhatikan aktivitasnya. Walau hanya sedikit yang kutahu saat ia sudah berangkat ke sekolah. Hingga suatu kesempatan kutanyakan apa kesibukannya di sekolah saat ini.

“Alhamdulillah, kek, sekarang Faris sudah mulai membangun umat”, sambil senyum ia berkata padaku.

Kukernyitkan dahiku, heran dengan apa yang ia ucap. “Membangun umat? Memang apa yang Faris lakukan?”, tanyaku heran.

“Iya, kek, membangun umat. Begini kek, sekarang Faris sudah pegang dua grup binaan. Masing-masing grup berjumlah lima orang. Kami rutin mengadakan pertemuan tiap pekannya, isinya kajian, diskusi dan saling evaluasi. Intinya pembinaan dalam skala kecil, kek, berbentuk kelompok”

“Lalu hubungannya dengan membangun umat?”, balasku masih penuh tanya.

“Kalau satu kelompok lima orang, berarti sekarang Faris membina sepuluh orang, nah bayangkan kek, kalau ada sepuluh orang seperti Faris yang membina paling tidak satu kelompok, berarti sudah ada lima puluh orang yang terbina. Nah, mereka yang dibina itu  nantinya juga bisa membina seperi Faris, jadi nantinya akan ada banyak sekali yang terbina. Nah dari situ muncul generasi-generasi yang terbina, mereka akan jadi penerus umat, kek”, jelasnya mantap.

Aku tersenyum, kagum dengan ucapannya. Sepele pikirku tadinya, tetapi betul-betul nyata apa yang dilakukan cucuku. Banyak orang yang berfikir terlalu banyak untuk melakukan perubahan, menunggu datangnya kesempatan terlalu lama, tetapi yang dia lakukan sungguh luarbiasa. Ia mulai dengan hal sederhana, tetapi betul-betul nyata mempersiapkan generasi penerus.

Tak terasa ia kini tumbuh dewasa. Jauh melebihi yang aku lihat ketika ia masih kecil.

Sepuluh tahun lebih semenjak kepergian kedua orangtuanya, tak ada sedih yang berlarut, ia tambah tegar, ia semakin mandiri.

***

“Faris”, sebuah papan ukuran sedang terpampang dengan tulisan itu. Hampir disetiap sudut, setiap sepuluh meter kudapati papan yang sama saat berkunjung ke kampusnya, salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dua pekan lalu diadakan pemilihan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Kampus ini penuh pernak pernik kampanye, mengingatkanku pada lima belas tahun yang lalu. Pada suasana yang hampir sama.

“kakek!”, suara itu menghentikan lamunanku. Dengan senyum, lelaki tinggi kurus melambai kepadaku. Faris Ahmad, cucuku. Saat masih kecil, kedua orang tuanya meninggal dalam peristiwa kecelakaan mobil. Mulai saat itu aku membesarkannya. Merawatnya seperti anak kandung sendiri. Menyayanginya seperti aku menyayangi ibunya. Ia permata bagiku.

“Sebentar lagi aku akan pidato sambutan. Kakek masih ingat kan impianku selama ini yang terus kuceritakan ke kakek?”, matanya berbinar, tatapannya penuh semangat.

“apalagi semua mahasiswa bahkan dosen akan hadir, kek. Sulit dipercaya, aku akan mewujudkan impian itu dari sini, kek, di hadapan ratusan orang!”

Tak mungkin lagi aku padamkan gelora semangatnya yang membara. Aku tahu, aku mengerti segala impiannya, aku tahu melebihi apa yang ia ceritakan kepadaku. Kuberi isyarat agar ia bergegas mempersiapkan diri. Tatapku terus lekat padanya, sampai ia menghilang di belakang panggung. Segera aku mencari posisi yang nyaman untuk menyaksikan cucuku tampil di atas podium. Sementara orang-orang mulai berdesakan memenuhi tempat.

Tak berapa lama, gemuruh sorak-sorai mahasiswa mulai terdengar. Akupun berusaha tetap nyaman dan fokus agar bisa mendengar jelas pidato cucuku nanti. Sorak-sorai terdengar semakin kencang. “Faris...! Faris...! Faris...!”.

“Baik saudara-saudara sekalian, para dosen dan rektorat yang terhormat, mari kita sambut ketua BEM kita yang baru, Faris Ahmad!”

Sesaat setelah pemandu acara mempersilahkan, muncullah sosok gagah dan penuh percaya diri naik ke atas podium. Bunyi mic mulai berdengung. Sejenak suasana hening menggantikan gemuruh sorak-sorai mahasiswa. Aku tertegun.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... yang saya hormati, para dosen dan rektorat, saudara-saudari rekan mahasiswa yang saya cintai dan saya banggakan..”, ia terdiam sejenak. Terlihat dadanya terangkat menarik nafas kecil.

“Dengan bangga kupersembahkan pidato ini untuk orang tercinta saya, kedua orang tua saya yang telah tiada dan sosok penuh kasih yang kini hadir membuktikan kasihnya, dialah kakek saya tercinta”. Entah apa yang kupikirkan saat itu, seakan aku tak percaya dan ingin menyuruhnya mengatakannya lagi.

“Karenanya saya mengerti apa itu impian, apa itu cita-cita besar, dan apa itu perjuangan. Melalui kampus ini, melalui lembaga ini, semoga menjadi awal saya menyalakan lentera islam yang dulu pernah berkilau terang, mewujudkan cita-cita besar para pejuang islam. Itulah impian besar saya!”

Tak penting apa yang telah ia raih sekarang. Tak penting apa yang kini ia duduki. Tetapi perjuangan, langkah kecil, dan keseriusan yang selama ini ia lakukan telah menjadi bukti amalnya, menjadi bukti perannya sebagai pemuda muslim.

Aku terhenyak, lunglai, bisu sudah lidahku. Tak ada yang mampu kuungkapkan. Impiannya melebihi apa yang telah kuajarkan padanya. Cita-citanya melampaui semua cita-cita pemuda kebanyakan. Tanpa sadar, pipiku sudah basah. Kupastikan betapa bangga kedua orang tuanya disana.

Cucuku, masa mudamu emas, tak peduli besar atau kecil peran yang kau berikan, kaulah pemuda muslim yang dinanti umat dan bangsa.
@rajimaulah
*tulisan ini masuk dalam 10 karya terbaik Sayembara Cerita Penndek Inspiratif yang diselenggarakan Universitas Indonesia-Islamic Book fair (UI-IBF) 2014.

Rabu, 17 September 2014

Melestarikan Generasi Qurani

kertas putih
Disaat sudah terlalu marak kemunduran moral masyarakat muda bangsa ini, saya masih bisa tersenyum.

Setidaknya setelah angan saya mundur untuk beberapa tahun lalu. Saya teringat akan sebuah kolom yang selalu tercantum di biodata para remaja, hobi. Ketika beberapa anak disuruh untuk menuliskan hobi mereka. Apa yang mereka tulis? Membaca Al-Quran. Luarbiasa bukan?

Entah masih ada untuk tahun 2014 ini yang mencantumkan ‘membaca Al-Quran’ sebagai hobi mereka. Jika ada, yakinlah generasi yang selama ini ditunggu-tunggu telah datang.
Pada kitab suci penuntun hidup setiap muslim ini, membaca, mempelajari, dan mengamalkannya menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang mengaku muslim. Tentu sangat jelas, sebagai persinggahan asing, dunia menyimpan segala misteri hidup yang sewaktu-waktu dapat menggelincirkan kita dari visi utama, akhirat. Maka pedoman arah menjadi kebutuhan. Begitulah, dengan segala keadilan-Nya, Sang Khalik menurunkan kalam-Nya dalam Al-Quran dan menyempurnakan sifat utusan-Nya, Muhammad saw, dalam perangai sempurna, akhlak Qurani.

Maka sudah seharusnya kita berlomba-lomba mencetak generasi yang mampu meniti jalan gelap dunia dengan pedoman yang terang-benderang menuju ridha-Nya. Maka Al-Quran telah disempurnakan oleh-Nya sebagai pedoman tersebut. Karenanya, mengejar dan mendalaminya adalah benar dan tepat. Berlomba mencetak tunas muda dengan Al-Quran sebagai akhlak mereka, sebagai ideologi mereka, sebagai shiraat (jalan) yang harus ditempuh adalah kebutuhan dan tanggung jawab. Tak hanya tanggung jawab mereka sebagai insan, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai orang tua.
Itulah generasi yang kita sebut Generasi Qurani. Tuturnya lebih banyak bersenandung ayat, bacaannya fasih mengikuti kaidah tajwid. Tak sekadar baca, tapi banyak serta rutin. Harinya berlalu tanpa luput dari tilawah.

Mengkajinya adalah ilmu yang begitu ia cintai. Pada catatannya banyak memuat pelajaran dan hikmah dari Al-Quran. Faham menjadi cita-citanya terhadap Al-Quran.
Akhlak dan tingkah laku hidupnya menjadi cerminan ilmu Al-Quran berupa perintah, larangan, dan hikmah.

Sungguh bahagia terlahir dan tumbuh bersama Al-Quran. Tidakkah kita rindu dengan generasi tersebut? Bangsa ini rindu lahirnya mereka. Seluruh kekayaan bumi dan keberkahan di negeri ini menanti untuk mereka Generasi Qurani. Sampai nanti, sampai berjumpa kembali dengan hobi para remaja yang senang membaca Al-Quran. Adakah kita mau menyiapkan generasi tersebut? Mari, selagi hayat masih dikandung badan.

artikel ini dimuat di dakwatuna.com | http://www.dakwatuna.com/2014/08/29/56405/melestarikan-generasi-qurani/

Rabu, 16 Juli 2014

Narasi Muhammad

anis matta pidato

Oleh Anis Matta, Lc
“Aku bisa berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan butamu dan mengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan itu, kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana?”

Itu dialog Nabi Muhammad dengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau, dan meminta didoakan agar Allah mengembalikan penglihatannya. Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yang begitu mengharukan: "Saya akan bersabar, dan berdoalah agar Allah tidak mengembalikan penglihatanku."

Beliau juga bisa menyembuhkan seperti Nabi Isa, tapi beliau menawarkan pilihan lain: bersabar. Sebab kesabaran adalah karakter inti yang memungkinkan kita survive dan bertahan melalui seluruh rintangan kehidupan. Kesabaran adalah karakter orang kuat. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa dengan bisa melihat, wanita itu akan bisa melakukan lebih banyak amal saleh yang bisa mengantarnya ke surga. Tapi di sini, kesabaran itu adalah jalan pintas ke surga. Selain itu, penglihatan adalah fasilitas yang kelak harus dipertanggungjawabkan di depan Allah, karena fasilitas berbanding lurus dengan beban dan pertanggungjawaban. Ada manusia, kata Ibnu Taimiyah, lebih bisa lulus dalam ujian kesulitan yang alatnya adalah sabar ketimbang ujian kebaikan yang alatnya adalah syukur.

Nabi Muhammad juga berperang seperti Nabi Musa. Bahkan Malaikat Jibril pun pernah meminta beliau menyetujui untuk menghancurkan Thaif. Tapi beliau menolaknya. Sembari mengucurkan darah dari kakinya beliau malah balik berdoa: "Saya berharap semoga Allah melahirkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Allah."

Muhammad bisa menyembuhkan seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad punya dua jenis kekuatan itu: soft power dan hard power. Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya. Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alat untuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata. Beliau memilih narasi. Karena itu mukjizatnya adalah kata: Al-Qur'an. Karena itu sabdanya pun di atas semua kata yang mungkin diciptakan semua manusia.

Itu karena narasi bisa menembus tembok penglihatan manusia menuju pusat eksistensi dan jantung kehidupannya: akal dan hatinya. Jauh lebih dalam daripada apa yang mungkin dirasakan manusia yang kaget terbelalak seketika menyaksikan laut terbelah, atau saat menyaksikan orang buta melihat kembali.

Dikutip dari majalah tarbawi yang ditulis ulang oleh Muhammad Imam