"Assalamualaikum, Welcome, Jelajahi Imajinasimu! "

Hai! Temukan untaian kata, cerita, dan pengalaman menarik dari situs ini...

Ungkapkan Mimpimu Kawan

"Layaknya sang anak dalam pangkuan ayahnya, menatap senja dengan sejuta mimpi besar, pantaskan diri, dan buat mimpi itu datang padamu!"

Tersenyumlah...

"Seperti halnya kebaikanmu pada orang lain, ia juga akan datang padamu"

Komitmen...

"Bentuk kesetiaan memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi semua"

Tegurlah...

"Bukanlah kesempurnaan tanpa kritik dan masukan, sungguh itulah suplemen agar saya tumbuh besar"

Jumat, 24 Maret 2017

Senja yang Resah

Duhai, resahnya sore melepas mentari. Lambat laun cahayanya meredup, pergi ditelan ufuk. Tanpa pamit. Tak ada daya mencegahnya walau sejenak. Tatapku hanya bisa kosong merelakan. Berharap esok jumpa kembali.

Beriringan perginya senja, awal keresahan menghampiri. Hiruk pikuk mulai memenuhi semesta. Padahal setahuku malam membawa sunyi. Tapi di kesendirian justru resah yang kurasa. Ingin rasanya menagih senja, apa yang ia ambil dariku!?

Kunyalakan lentera, coba membakar gundahgulana. Celaka, tak satupun yang menjadi tenang. Ini semakin bergejolak. Malang, resah membuatku lupa akan api. Dasar sifat api!

Kupukul gila ini. Mencoba sadar apa yang hilang. Tidak, akal ini sadar, tapi resah membuatnya buta. Tenyata gelap malam mengambil semua cahayanya. Memupus secercah cahaya yang menghiasi temaram. Kupukul gelap ini, tapi ia menjadi-jadi. Esok kutagih senja!

Semakin menjadi-jadi, bingung pun menghampiriku. Ia tak sendiri. Di penghujung keresahan dan hilangnya asa, ia datang memperkenalkan sesal. Meraih mendekap, mengajariku tunduk, memacu keresahanku, hingga batasnya, lalu di luar sadarku menitikkan air mata. Gejolak resahku seketika padam.

Senin, 30 Januari 2017

Jakarta, 'Desa' yang Tergusur

Pernah liburan ke desa? Pulang kampung? Ah, itu rasanya seperti melepas baju-baju kepenatan. Beban pikiran seperti luntur begitu tiba di desa. Asri, ramah, tentram, menenangkan, kicauan burung, angin segar, hampir semua itu cuma ada di desa.

Dahulu, Jakarta pun seperti itu. Tapi itu sudah dahulu kala. Seperti kisah fiktif kalau diceritakan sekarang. Apalagi hari ini. Entah mengapa penguasa Jakarta saat ini seperti tak mau menghadirkan suasana desa di ibukota. Perlahan digusur dan dipinggirkan. Semua lenyap seperti disapu ombak pinggir pantai. Jakarta makin hilang rasa desanya.

Jakarta ibukota. Betapa indahnya jika ibukota maju, pembangunannya maju, fasilitas dan pelayanannya maju. Bukan tidak mungkin semua itu dicapai dengan juga menghadirkan suasana desa di ibukota. Bayangkan, jika ibukota warganya bahagia, tak ada yang perlu menangis rumahnya digusur. Penataan bolehlah, asal warganya dihormati dan dijunjung. Pemimpin harusnya berjuang untuk rakyat, melayani rakyat bukan menyengsarakan rakyat. Begitu bukan?

Bayangkan jika ibukota hati warganya tentram. Tak perlu lagi ada kata-kata kasar dan menista keluar dari mulut penguasa. Sungguh tak elok rasanya, dipilih rakyat tapi menghina rakyat. Sudah saatnya rakyat ibukota tentram dan bahagia.

Saya berharap, jikalau orang-orang tua sudah tak lagi bisa melihat pemimpin mana yang betul-betul membawa kemajuan dan kebahagiaan, biarlah kami anak muda yang bersuara lantang menyerukan perubahan. Saya punya mimpi, suatu saat ibukota punya rasa desa. Kota megapolitan yang nyaman, tentram, damai, tanpa tangisan pilu warganya.

Saat ini, saya yakin, pasangan nomor 3 calon pemimpin Jakarta, Anis-Sandi punya harapan untuk itu. Semoga warga Jakarta lebih dewasa, lebih cerdas, dan mau bersama mewujudkan kebahagiaan dan ketentraman itu.

Jumat, 27 Januari 2017

Mahasiswa dan Pilkada Jakarta

Sebenarnya apa sih yang dirisaukan warga Jakarta menjelang Pilkada 15 Februari nanti? Apa saja yang ditawarkan masing-masing calon gubernur Jakarta? Manakah calon yang betul-betul mau memperbaiki Jakarta?

Sebagai mahasiswa harusnya lo udah tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Ya, jangan kira mahasiswa tak punya peran dalam pagelaran pilkada ini. Ini penting, Karena Jakarta adalah ibukota. Lihat saja semua mata sekarang tertuju pada Pilkada DKI. Siapa sih yang lupa dengan sejarah? Mahasiswa selalu terdepan dalam perubahan di negeri ini. Wajar, karena mahasiswa itu kritis, berani, dan jauh dari iming-iming uang dan kekuasaan. Mereka tulus berjuang. Ya kecuali lo masuk kategori mahasiswa anak layangan, mungkin gak akan banyak tahu dan peduli.

Tapi menurut gue, sudah saatnya mahasiswa khususnya di Jakarta ambil peran. Udah ga zaman lagi mahasiswa skeptis dengan politik, pura-pura gak peduli, giliran rakyat menjerit, rumah-rumah digusur dengan tidak manusiawi, pengusaha ketawa-ketawa nikmatin hasil reklamasi, kita baru kebakaran jenggot. Ingat bro, mahasiswa selalu terdepan mengawasi pemerintahan. Mahasiswa selalu maju memperjuangkan nasib rakyat!

Semoga lo, gue, dan para mahasiswa lainnya udah ga bingung lagi harus ambil peran apa di Pilkada ini. Gue yakin itu.
Dan menurut gue ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa:

Pertama, lo harus buka mata selebar-lebarnya dan tatap Pilkada yang tinggal menghitung hari ini. Cermati, amati, ikuti. Kita bisa lihat kok apa di balik siapa, dan siapa di balik apa. Maksud gue, yang namanya politik adalah kepentingan. Tinggal siapa mementingkan apa. Mementingkan rakyat kah atau bukan? Sadar bahwa di Pilkada ini kita harus ambil peran.

Kedua, tentukan pilihan. Sebagai mahasiswa lo udah harus tahu mana calon pemimpin yang terbaik. Jangan cari malaikat bro di Pilkada ini. Semua calon gue yakin pasti punya kekurangan. Tinggal kita cari siapa yang terbaik di antara yang baik, atau siapa yang paling sedikit buruknya di antara yang buruk. Dan jangan lupa, dia mau memperjuangkan siapa, dan siapa orang-orang di baliknya. Ya namanya juga politik, udah ga bisalah mahasiswa dibodohi dengan pencitraan. Dan gue pribadi melihat di Pilkada ini ada tiga poros besar, yang satu mewakili Amerika, yang satu mewakili China, dan satu lagi mewakili Indonesia. Ya itu sih opini gue.

Ketiga, setelah lo yakin, jangan puas sampai di situ aja. Lo harus ajak teman-teman lo, buat mereka juga yakin kaya lo. Gimana caranya? Sekarang zaman canggih, lo cuma duduk aja udah bisa bro. Manfaatin teknologi, gadget, media sosial, blog, komunitas, dan lain-lain. Dan perlu kita sadari, sebagian pemilih DKI adalah pemilih muda, yang mayoritasnya adalah mahasiswa, yang lo tahu mahasiswa ga lepas dari internet dan media sosial. Manfaatkan itu.
"Loh ngapain gue repot-repot ngajak orang?" Yaelah bro, kalo cuma lo seorang doang milih calon yang lo yakin dia yang terbaik, percuma aja, yang akan menang adalah yang paling banyak suaranya. Ingat kan pemilu Amerika beberapa waktu lalu? Rakyatnya pada pengen Hillary yang menang, tapi nyatanya apa? Trump yang naik. Karena apa? Karena dia yang dapat suara terbanyak, akhirnya sekarang demo di mana-mana. Ya namanya juga demokrasi, begitulah kenyataannya.

Terkahir, 15 Februari buat lo yang ber-KTP Jakarta, jangan sampai kehilangan hak suara lo. Dateng ke TPS. Jangan golput. Sekarang lo bisa lihat orang-orang yang matanya cuma bisa lihat duit berbondong-bondong pada milih. Yang dicari duitnya doang, gak peduli siapa yang dipilih, yang penting kantong tebel. Lo gamau kan mereka-mereka pada milih sementara lo yang tulus mencari pemimpin sejati ga milih?

So, pilkada bukan cuma urusan orang-orang tua, bukan cuma kepentingan elit politik, tapi lo sebagai mahasiswa punya peran besar di pemilu. Untuk rakyat Indonesia, untuk Jakarta yang lebih baik, hidup mahasiswa!

Selasa, 24 Januari 2017

Jeritan Mahasiswa Jakarta, kemana?

Pernah melihat jalan Jakarta sepi? Ya, mungkin hanya dua kali dalam setahun saat lebaran haji dan lebaran puasa, ditambah libur-libur longweekend yang sering tak pasti, sama dengan keluhan rakyat Jakarta yang sering tak pasti nasibnya.

Tapi saya lebih sering melihat Jakarta sepi dari teriakan mahasiswa. Padahal pemangku kebijakan tak pernah sepi dari korupsi. Tukang oplet yang sudah memarkirkan opletnya sejak lama pun paham dengan keluhan-keluhan ini.

Syukurlah, kita bisa melihat jelas permasalahan Jakarta yang tak bisa disembunyikan oleh si pesilat lidah. Meskipun sebenarnya miris. Memangnya ada yang ingin hidup dalam sengsara terus? Saya tak sanggup lagi menonton jerit tangis rakyat jelata yang rumahnya digusur dengan tidak manusiawi. Saya juga semakin pilu dengan keuntungan reklamasi yang ternyata lebih banyak merugikannya. Geram dengan pertunjukan nista-menistakan di publik. Penegak hukumnya seperti main kucing-kucingan, tak tahu kapan tertangkapnya. Bosan, cari mangsa lain. Sudah saatnya Jakarta butuh kesantunan dari pemimpinnya. Ini negeri yang santun, ini ibukotanya yang santun.

Aneh bukan? Panggung ibukota negara yang kaya raya, rakyatnya santun, dan ragam budayanya ini cuma jadi rebutan orang bermata duit. Jelas menggiurkan, ini ibu kota loh. Sebab itulah yang merasa hebat berani ikut ambil peruntungan demi bisa menunggangi panggung nyaman ini. Siapa yang betul-betul tulus? Tinggal lihat saja siapa dalang di balik tokohnya.

Mahasiswa, Jakarta, mahasiswa Jakarta, tolaklah lupa itu, lupa dengan karakter kita yang khas, kritis. Jangan mau dikelabui rezim yang terus coba membuat kritis kita tumpul. Menjeritlah sebagaimana rakyat menjerit. Teriaklah sebagaimana warga kecil berteriak. Nasib ibukota ini sebentar lagi ditentukan.

Minggu, 01 Januari 2017

Sepuluh Tahun yang Lalu, dari Timur ke Barat

Raji Pantai Losari
2006 yang lalu, tak terasa kini sudah sepuluh tahun berlalu. Masa-masa saat pertama kali memulai perjalanan, perjalanan penuh emosi dan memori. Terkadang tangis mengalir, tak jarang pula senyum terukir, silih berganti menghiasi perjalanan ini, perjalanan panjang nan berliku.

Masa yang begitu sulit dilupakan, walau waktu menghempasnya begitu cepat. Berlalu berlarian seperti diterpa ombak.

Dari Timur ke Barat, membentang, membelah lautan, meneruskan budaya mendarah daging leluhur kampung halaman.

Hidup dalam perantauan tak ubahnya menempa diri, mengasah kearifan, dan membentangkan persahabatan.

Bertemu, lalu berpisah, dan harap kelak bertemu kembali. Irama hidup yang seperti ini menempa jiwa, mengasah hati, dan merajut pikiran, maju berkembang menembus batas.

Dari Timur ke Barat, melintas pulau. Berbekal pesan nasihat dari kampung halaman, kemudian menemukan hamparan pengalaman yang tak ternilai harganya.

Dari Timur ke Barat, mencari kekayaan ilmu, menelusuri celah-celah dasar ilmu pengetahuan, hingga sadar bahwa tak ada yang diri ini ketahui, semakin saja merasa kosong.

Dari Timur ke Barat, melintas awan cakrawala. Ada sejuta memori indah yang tak mungkin terlupakan. Di sana, di sini, ada teman yang merangkul, selalu ada mengobati rindu, namun satu waktu justru menambah rindu.

Ini bukan lelah, bukan pula jenuh, ia mata air yang memberikan kehidupan. Ia hamparan yang membentuk ekosistem. Ia embun yang menyegarkan. Ia nutrisi yang menumbuhkan. Ia elok menghiasi pemandangan di tempat persinggahan ini.

Dari Timur ke Barat, sepuluh tahun berlalu. Masih ingatkah? Rasa-rasanya baru kemarin sore kita berpisah, rasa-rasanya belum lama kita melambai tangan, rasa-rasanya baru saja aku melangkahkan kaki, namun waktu menepuk menyadarkan, bahwa cukup panjang jalan yang telah ditempuh.

Sepuluh tahun telah berlalu, kaki ini harus semakin kuat, pundak ini harus semakin kokoh, genggaman ini harus semakin erat, pandangan harus semakin tajam, dan langkah harus semakin hentak.

Selalu ingat, sejauh manapun engkau berkelana, ada Sang Pencipta yang akan menyertai, membimbing, dan menghilangkan kesendirian. Sepanjang apapun jalan yang kau telusuri, ada risau dan doa orang tua menyertai, memberi kekuatan, menyempurnakan bekal.

"Berkelanalah, kelak akan kau jumpai pengganti dari yang engkau tinggalkan" betapa indah Imam Syafi'i melukiskan hakikat perjalanan.

Kelak, pulanglah dengan harapan yang telah menjadi nyata, cita-cita yang telah terwujud, dan tujuan yang telah dicapai.

Sepuluh tahun, semoga senantiasa dalam keberkahan.
_______
19 September 2016
Di atas cakrawalah menuju Barat.

Selasa, 07 Juni 2016

Apa Tema Ramadan Kita?


Bulan mulia harus dipersiapkan dengan baik kedatangannya. Layaknya tamu agung yang datang setelah pergi sebelas bulan lamanya. Mari persiapkan dan sambut meriah kedatangannya. Marhaban ya Ramadan.

Menarik ingin saya sampaikan salah satu persiapan menyambut tamu agung ini. Tema. Apa tema ramadan kita kali ini? Boleh jadi sama atau boleh jadi berbeda dengan Ramadan tahun lalu, yang jelas kita harus pasang target Ramadan kali ini lebih baik dari sebelumnya. Namun jangan puas dulu, tidakkah kita sedih dengan mereka yang tak merasakan kehadiran Ramadan kecuali secara tiba-tiba? Lantas tema apa yang dia persiapkan? Bisa jadi Ramadan baginya hanya bertema puasa, tidak makan dan tidak minum di siang hari.

Sungguh malang bukan? Padahal Ramadan selalu datang dengan janji ketakwaan bagi siapa saja yang lulus darinya. Berlimpah-ruah keutamaan dan segala rahmat ampunan Allah di bulan ini. Lalu tidakkah kita haus untuk meneguk segala luapan nikmat itu? Atau boleh kita berkata, minimal satu dua teguk dari telaga keutamaan Ramadan kita ambil. Jangan sampai sia-sia, tertinggal, dan tak dapat apa-apa kecuali seperti yang disabdakan Baginda Nabi saw: Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan sedikitpun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.

Olehnya, mari kita susun tema Ramadan kita. Ukir dan pajang besar-besar di hadapan ruh dan pikiran kita setidaknya selama satu bulan Ramadan. Moga-moga ia jadi motivasi dan pengingat kita agar tak tertinggal jatah keutamaan Ramadan.
Seperti apa tema Ramadan itu? Tak asing pastinya, kita sering mendengar Ramadan tak disebut Ramadan. Di antaranya Syahrus Shiyam (bulan puasa), Syahrul Quran (bulan Al-Quran), Syahrus Shobr (bulan kesabaran), Syahrul Maghfirah (bulan ampunan), Syahrul Qiyam (bulan qiyamullail/tahajjud), Syahrut Taubah (bulan taubat), Syahrus Shodaqah (bulan bersedekah), dan masih banyak lagi.

Ternyata Ramadan sejatinya begitu penuh dengan ketaatan, begitu padat dengan ibadah. Maka cobalah untuk menjadikan salah satu di antaranya unggulan selama bulan Ramadan. Contoh kita bisa jadikan taubat sebagai ibadah unggulan kita selama Ramadan. Tiada hari tanpa istighfar, dalam sehari kita targetkan minimal seribu kali istighfar. Taubat kita lebih dahsyat dari hari-hari di luar Ramadan, semakin hari semakin sering kita mengadu memelas ampunan kepada Allah. Hingga hari-hari Ramadan kita penuh dengan kalimat istighfar dan taubat. Subhanallah, indah betul. Maka Bulan Taubat dan Istighfar adalah tema Ramadan kita.

Atau Allah beri kita kelebihan harta. Targetkan tiada hari tanpa sedekah, nominalnya melebihi sedekah kita di hari-hari biasa. Semakin kita lalui hari di bulan Ramadan, semakin asyik kita bersedekah. Maka Bulan Bersedekah adalah tema Ramadan kita.

Tak boleh semalampun lewat tanpa shalat tahajjud minimal empat rakaat. Di sepuluh malam terakhir tak ada lagi waktu malam untuk tidur kecuali sedikit. Maka Bulan Tahajjud adalah tema Ramadan kita.
Sungguh indah kita lalui hari-hari Ramadan dengan tema Ramadan. Jadikan ia amal unggulan kita di Ramadan tahun ini, sesuai kapasitas dan kemampuan kita, "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.." (At-Taghabun: 16)

Tapi ingat, ada orang yang selepas Ramadan, ia menjadi betul-betul kaya bergelimang pahala dan fadhilah. Siapa mereka? Orang-orang yang menjadikan segala jenis ibadah menjadi unggulannya di bulan Ramadan. Allah swt ridha terhadap mereka dan tanpa ragu memberian gelar takwa sesuai janjiNya. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Mari tentukan tema Ramadan kita dan raih gelar takwa insya Allah.

Selasa, 08 Maret 2016

Shalat Gerhana dan Hikmah

shalat gerhana

Saat gerhana, gaya gravitasi bumi sedikit terpengaruh oleh gravitasi bulan dan matahari yg sejajar.

Dri situs www.infoastronomy.org dikatakan:
"Nilai gravitasi di permukaan Bumi adalah 9,8 meter per detik kuadrat, atau 980 gal. Sementara penelitian oleh dua astronom Tiongkok, Xin-She Yang dan Qian-Shen Wang menunjukkan adanya penurunan gravitasi Bumi 6 hingga 7 mikrogal atau 0,000006 hingga 0,0000007 gal saat kontak pertama dan kontak terakhir gerhana Matahari. Namun, selama fase total, gravitasi Bumi kembali normal."

Lalu, dalam ajaran Islam, kita disunnahkan utk shalat gerhana saat terjadi gerhana, dan salah satu yg membedakannya dgn shalat yg lain adalah lamanya waktu pelaksanaan shalat tersebut, ruku' dan sujudnya pun lama.

Dari sini saya meyakini, walaupun tidak ada pembuktian ilmiahnya (atau lebih tepatnya saya yg blm menemukan), ada hikmah dan pengaruh terhadap kesehatan/medis dari shalat gerhana yg lama dengan kondisi tubuh yg dipengaruhi fenomena gerhana. 
-Seperti halnya rahasia dibalik pelarangan laki2 memakai perhiasan emas dan larangan perempuan shalat saat haid dari sudut pandang medis-
Wallahu 'alam.

Jadi, sunnah muakkadah shalat gerhana jangan sampai terlewatkan. Semoga Allah memeberi kita semua taufiq agar mampu mengikuti sunnah baginda Nabi saw, karena seperti itulah seyogyanya kita dalam beribadah, tak perlu menunggu apa rahasia dan hikmah di balik perintah ibadah. Adapun saat kita mengetahui hikmah dan rahasia di balik ibadah tersebut, tentu akan menambah semangat dan keyakinan kita dalam beibadah.

-Raji Luqya Maulah-
sumber foto: www.dakwatuna.com

Senin, 07 Maret 2016

Fiqih Shalat Gerhana

fiqih shalat gerhana

Shalat Kusuf (Gerhana Matahari) dan Khusuf (Gerhana Bulan)*
(Berdasarkan Madzhab As-Syafi’iy)

Definisi dan waktu disyariatkan:

Kata Kusuf dari segi bahasa diartikan sebagai tertutupnya sinar matahari sebagiannya atau seluruhnya, adapun kata Khusuf diartikan sebagai tertutupnya cahaya bulan sebagiannya atau seluruhnya. Namun kedua kata tersebut boleh diartikan sama.

Shalat Kusuf (gerhana matahari) dan Khusuf (gerhana bulan) termasuk shalat yang disyariatkan karena adanya sebab, dalam shalat tersebut seorang muslim berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar diangkat bencana dan dikembalikannya cahaya matahari. 

Shalat Kusuf (gerhana matahari) disyariatkan pada tahun ke dua Hijriyah, adapun shalat Khusuf (gerhana Bulan) disyariatkan pada tahun ke lima Hijriyah.

Hukum Shalat Gerhana:

Shalat gerhana hukumnya Sunnah Muakkadah, sebagaimana sabda Nabi saw, yang diriwayatkan Muslim (904): «Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah, gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahiran seseorang, maka apabila kalian melihat gerhana, shalatlah dan berdoalah sampai terbuka (gerhana)». Juga sebagaimana perbuatan Nabi saw yang akan dijelaskan kemudian. Adapun hadits ini tidak diartikan sebagai perintah wajibnya shalat gerhana, berdasarkan riwayat: bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Nabi saw tentang shalat lima waktu dan berkata: apakah ada (kewajiban) untukku selainnya (shalat lima waktu)? Kemjudian Nabi saw bersabda: «Tidak, kecuali yang sunnah». (Bukhari: 46; Muslim: 11)

Dan disunnahkan dilakukan secara berjama’ah, dengan seruan: (الصلاة جامعة) Ashshalaatu Jaami’ah

Tata Caranya:

Shalat Kusuf dan Khusuf terdiri dari dua rakaat, dengan niat shalat Kusuf atau Khusuf, dan terdapat dua tata cara pelaksanaannya: batas cara minimal sahnya shalat, dan cara terbaik menunaikannya.

Adapun tata cara minimal sahnya shalat gerhana adalah dalam setiap rakaat terdapat dua kali berdiri, dua kali bacaan (Alfatihah), dua kali ruku’, dan dilakukan seperti shalat biasa tanpa diperpanjang (diperlama).  Dan sah apaliba dilaksanakan dua rakaat dengan dua kali berdiri dan dua kali ruku’, seperti shalat jumat, akan tetapi hal itu termasuk meninggalkan keutamaan, karena berbeda dengan perbuatan Nabi saw.

Adapun tata cara yang terbaik adalah: dalam setiap rakaat, dua kali berdiri dengan memperlama bacaan di setiap berdiri, yaitu membaca surat Albaqarah saat berdiri yang pertama dari rakaat pertama setelah surat Alfatihah atau surat lain yang setara. Dan saat berdiri yang kedua (dari rakaat pertama) dengan kadar 200 ayat. 
Saat berdiri yang pertama dari rakaat kedua  dengan kadar 150 ayat, dan saat berdiri yang kedua (dari rakaat kedua) yang setara dengan 100 ayat surat Albaqarah. 
Kemudian pada saat ruku’, hendaknya memperpanjang ruku’ setara membaca kurang lebih 100 ayat, dan pada ruku’ yang kedua, memperpanjang ruku’ setara membaca 80 ayat. Dan ruku’ yang ketiga setara 70 ayat, dan ruku’ yang keempat setara 50 ayat.

Apabila telah selesai shalat, imam menyampaikan khutbah dengan dua khutbah –seperti khutbah shalat jumat baik dalam rukunnya dan syaratnya-, di khutbah tersebut Khatib menghimbau manusia untuk bertaubat dan berbuat baik, dan memperingatkan mereka dari kelalaian dan tipu daya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan (562), dan berkata hasan shohih, dari Samurah bin Jundub ra berkata: Nabi saw shalat bersama kami saat gerhana bulan dan kami tidak mendengar suara dari beliau.

Dan Imam Bukhori meriwayatkan (1016); dan Muslim (901), dari Aisyah ra berkata: Terjadi gerhana matahari saat Nabi saw masih hidup, lalu Rasulullah saw keluar menuju masjid, lalu berdiri dan bertakbir dan meluruskan shaf di belakangnya, kemudian membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata: «Sami’allaahu liman hamidah Rabbanaa lakal hamdu» kemudian berdiri dan membaca bacaan yang panjang namun lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lebih pendek dari ruku’yang pertama, kemudian bekata: «Sami’allaahu liman hamidah Rabbanaa lakal hamdu», lalu sujud – dalam riwayat yang lain: kemudian memperlama sujud – lalu beliau melakukan hal yang sama di rakaat kedua sampai selesai empat rakaat . . . yaitu empat rakaat^ dan empat sujud, dan matahari kemudian nampak kembali sebelum beliau beranjak (dari shalat). Kemudian beliau berdiri lalu berkhutbah, lalu memuji Allah swt, dan bersabda: «Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang, apabila kalian melihatnya maka bersegeralah menuju shalat». Dalam sebuah riwayat: «Apabila kalian melihatnya maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah».

[pada kenyataan. . . : Gerhana bertepatan dengan kematian putra Rasulullah saw; Ibrahim as. Dan pada masa Jahiliyah apabila terjadi gerhana bulan atau matahari, mereka beranggapan bahwa seseorang yang hebat/mulia telah wafat, mereka semakin meyakini  hal itu karena bertepatan pula dengan kematian Ibrahim as. Akan tetapi Rasulullah saw membantah keyakinan tersebut dengan berkata: «Gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian atau kehidupan seseorang».
. . .  ^Empat rakaat: maksudnya empat kali ruku’].

Apabila shalat gerhana matahari, maka bacaan dipelankan, dan memperingatkan manusia dari kelalaian dan tipu daya.

Shalat Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan Tidak Diqadha:

Apabila waktu shalat gerhana matahari atau bulan terlewatkan, seperti telah nampak kembali matahari atau bulan sebelum menunaikan shalat gerhana, maka tidak disyariatkan untuk menggantinya (qadha), karena shalat gerhana merupakan shalat yang berkaitan dengan sebab, apabia sebabnya hilang maka hilang pula kewajibannya. 

Mandi Untuk Shalat Gerhana:

Disunnahkan mandi sebelum shalat gerhana matahari atau bulan. Mandi sebelum shalat gerhana seperti halnya mandi sebelum shalat jumat, karena shalat gerhana berkumpul dan disunnahkan secara berjama’ah.

*Diterjemahkan dari kitab Al-fiqhu Al-Manhajiy ‘Ala Madzhab Al-imam As-syafi’iy –Rahimahullaahu Ta’aalaa- Juz pertama karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthofa Al-Bugha, dan Syaikh ‘Ali As-Syarbaji cetakan ke empat DarulQalam halaman 239-242.

-Raji Luqya Maulah-

Senin, 17 Agustus 2015

Memaknai Kemerdekaan

Bendera Indonesia

Merdeka Indonesia!
Mari maknai kemerdekaan itu..

Merdeka berarti bersegera sambut seruan-Nya
Merdeka berarti perangi kebatilan
Merdeka berarti tegakkan kebenaran
Merdeka berarti taat yang bertambah
Merdeka berarti lepas dari maksiat
Merdeka berarti cerdas dari kejahiliaan
Merdeka berarti membuang jauh kebodohan dan kebutaan
Merdeka berarti segan dengan kearifan
Merdeka berarti hina dengan kesombongan
Merdeka berarti peduli dengan sesama
Merdeka berarti perangi egoisme
Merdeka berarti perangi korupsi
Merdeka berarti perangi kezholiman
Merdeka berarti mendukung yang tulus
Merdeka berarti lawan yang kufur
Merdeka berarti syukur pada nikmat-Nya
Merdeka berarti sadar akan bergantung pada-Nya
Merdeka berarti hidup mulia atau mati di jalan-Nya
Merdeka berarti terbebas dari siksa api neraka

Sayangnya, tak banyak lagi yang mampu memaknai kemerdekaan.
Maaf bangsaku..

Raji L Maulah
di hari ke-70 tahun bangsaku

Sabtu, 18 April 2015

Premium Ingin Dihapuskan? hmm..


Menurut hemat saya ini cuma akal-akalan pemerintah dalam memuluskan rencana perusahaan bahan bakar asing untuk semakin menguasai pasar di Indonesia, apa ini semakin memperjelas bahwa ada deal-deal sebelumnya untuk itu..?
pemerintah as yg dapat kursi, perusahaan asing as cukong (pemberi modal dapat kursi (baca: kekuasaan)).
Dampaknya selisih harga pertamax dan pertalite (jenis baru pengganti premium nanti) akan semakin kecil. Lihat saja sekarang, selisih premium dengan pertamax yang segitu saja orang-orang sudah beralih ke pertamax, melirik ke pom bensin asing bahkan lebih mentereng & diminati, wong harga juga sama dengan yang di pertamina (pertamax), bisa dibayangin klo selisihnya nanti lebih kecil lagi!
Otomatis antrian di SPBU kepunyaan asing semakin panjang, untung mereka meningkat, mission complete~

Dan lagi..
ini sama aja secara tidak langsung pemerintah menaikkan (lagi) harga BBM tapi dengan bungkus baru; embel-embel jenis bahan bakar yang lebih bagus, tarikan mesin lebih kuat, lebih bersih, ramah lingkungan (kata salah seorang pengamat, "Emang ada BBM yang ramah lingkungan?" Hehe), dan lebih murah dari pertamax~ (lalu kita lupa kalau itu lebih mahal dari premium)

So, seperti halnya setiap kali kenaikan harga BBM, harga pokok di pasaran ikut meroket, dan gamau turun meski BBM udah turun.

Boleh-boleh saja sih ganti jenis BBM dengan yang lebih bagus (dgn resiko harga lebih mahal) macam di Malaysia, tapi seharusnya Pemerintah juga sadar bahwa yang lebih penting sebelum itu adalah menaikkan pendapatan per-kapita penduduk Indonesia, supaya masyarakat bisa mengimbangi. Tapi nyatanya tidak begitu. Alhasil kita mau ngikut jejak malaysia, tapi malah blunder.

Lagi-lagi yang dikorbankan Rakyat.

Mungkin tulisan ini cuma opini belaka, bisa jadi akan muncul fakta-faktanya kemudian hari, namanya juga opini, toh dipayungi oleh kebebasan berpendapat, kan?

So, ayolah, masayarakat MerahPutih, kita harus sadar dengan kondisi Negara kita, karena kita sama-sama manggut dengan asas CINTA TANAH AIR.